Kamis, 03 Juli 2014

Sinopsis Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El Khalieqy



Tokoh utama dalam novel ini adalah Anisa yang biasa dipanggil Nisa. Nisa hidup dalam lingkungan pesantren milki ayahnya. Nisa mempunyai dua saudara laki-laki yaitu Rizal dan Wildan.
Nisa selalu menghabiskan hari-haring bersama kedua kakaknya. Suatu hari Nisa pergi bersama kakaknya Rizal keluar dari pesantren bermain seharian. Nisa mempunyai keinginan untuk belajar menunggang kuda seperti yang dilakukan kakaknya tetapi ayahnya melarang karena ayahnya menganggap bahwa hanya laki-laki yang pantas untuk menaiki kuda. Keinginan Nisa tetap tinggi untuk bias naik kuda ia semakin mempunyai halangan yang berat karena diawasi enam santri yang disuruh ayahnya. Dalam segala urusan yang berkenaan dengan laki-laki  Nisa selalu dikesampingkan karena wanita dianggap hanya bias memasak, melayani suami dan mengurusi anak-anak kelak. Dalam hal apapun Nisa dan Rizal sering terlibat perselisihan seperti pada saat Nisa ingin belajar qiraah pada Mbak May yang pernah juara tingkat kabupaten. Karena merasa dikesampingkan terus-menerus Nisa semakin bersemangat untuk belajar qiraah dan naik kuda. Suatu saat waktu pulang belajar dari kamar Mbak May Nisa ketahuan ayahnya  dan dimarahi habis-habisan. Setelah kejadian itu Nisa semakin mendapat aturan-aturan yang ketat dari ayahnya. Nisa dilarang untuk keluar pesantren selain untuk sekolah dan mengaji dipesantren. Ayah Nisa termasuk orang yang masih berpikir kolot  karena menganggap perempuan lemah dan mengajarkan tentang kitab-kitab kisah zaman dulu. Nisa sedikit mendapat pembelaan dari Lek Kudhori  seorang gurunya tetapi hal itu tidak dapat mengubah semuanya karena Ayah Nisa sangatlah dihormati. Dalam mengajar Lek Kudhori selalu menceritakan pahlawan-pahlawan perempuan yang membuta Nisa menyukainya.
Nisa merasa sedih karena Lek Kudhori sebentar lagi pergi ke Kairo untuk melanjutkan studinya. Rizal meski sudah dewasa selalu berpenampilan biasa memakai celana pendek namun tidak pernah dipermasahkan seperti Nisa saat melakukan kesalahan sedikit saja. Nisa memiliki nama asli Annisa Nuhaiyyah yang berarti perempuan yang berakal atau perempuan yang berpandangn luas. Menurut ibunya ibu Hajjah mutmainah nama itu diberikan karena diharapkan Nisa dapat menggantikan posisi ayahnya kelak.
Setelah kepergian Kudhori Nisa selalu murung dan mengurung dirinya di kamar. Nisa merasa tidak ada lagi sosok malaikat yang selalu membelanya dan tulus menyayanginya. Meski Nisa dan Kudhori jauh mereka tetap menjalin hubungan melalui surat. Nisa di pesantern bagai seorang putri yang banyak mengagumninya termasuk Pak Joko.
Suatu hari karena kejenuhannya Nisa mengajak Aisyah keluar ke kota untuk menonton film Amitha Bacham di bioskop. Saat di depan bioskop Nisa ditarik seorang pemuda yang berniat jahat padanya, beruntung pada saat yang bersamaan Pak Tasmin seorang penjual peralatan kerja yang pernah melihat Nisa saat mengarap sawah milik ayahnya  menolongnya hingga membuat laki-laki itu menjauhinya.
Seminggu kemudian Ayah Nisa mengetahui kejadian di bioskop. Ayah Nisa sangat marah karena hal itu, ayah Nisa mengancam akan memasukkan Nisa ke pesantern yang jauh. Nisa memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap apa yang dipelajarinya di dalam kitab-kitab. Hingga terkadang hal itu membuat tawa teman-temannya karena selalu ditanyakan pada pak Kiai saat belajar di kelas. Nisa telah memasuki masa dewasa karena ia telah menemui masa haidz yang pada umumnya anggapan di pesantren itu dianggap sebagai tanda kedewasaan seorang perempuan. Karena kekawatiran Ayahnya Nisa kemudian dijodohkan dengan Samsudin yang telah memilki seorangt istri bernama Kalsum. Ayah Nisa tidak dapat menolak ajakan teman dekatnya Kiai  Nazarudin. Pernikahan itupun terjadi meski tidak didasari dengan rasa saying diantara mereka. Setelah pernikahan itu Nisa selalu mendapat perlakuan yang tidak menyengkan. Nisa selalu dipaksa untuk melayani Samsudin meski hal tersebut dilarang dari segi agama dengan kekerasan seks. Hari demi hari Nisa lalui bersama Samsudin dan istrinya yang pertama Kalsum. Kalsum menceritakan banyak hal pada Nisa. Nisa memberikan banyak pelajaran pada Kalsum tentang apa yang salah dan benar menurut syariat. Nisa dan Kalsum menjadi semakin dekat hingga seperti kakak adik. Nisa dan Samsudin terlibat suatu pertengkaran yang hebat karena Nisa ingin mempertahankan haknya sebagai seorang wanita.   Nisa menyadari jika Samsudin memiliki kelainan seks sejak dengan Ayahnya Kiai Najamudin karena memilki gambar dan film porno yang masih tersimpan dilemarinya.  Nisa semakin mendapat perlakuan yang tidak manusiawi ia sering ditampar oleh Samsudin atas penolak-penolakannya.
Setelah selesai belajar di Kairo kudhori pulang. Kudhori disambut meriah dilingkungan pesantren hingga dibuatkan acara seperti pesta kegembiraan atas keberhasilannya. Nisa melepas rindu terhadap Kudhori dan memeluknya. Kudhori pun masih menganggap Nisa seperti yang dikenal dulu meski sekarang ia telah bersuami. Nisa kemudian menceritakan banyak hal pada Kudhori. Nisa sudah tidak bias menyembunyikan segala yang menimpanya. Nisa menganggapm saat itulah yang tepat untuk membongkar segala yang dilakukan Samsudin terhadapnya. Mereka semua yang ada disana terkejut dan terpana atas pernyataan Nisa. Ibu Nisa sangat beremapti pada Nisa dan memeluknya. Semua orang berubah dan menyadarinya. Ayahnya Nisa jatuh sakit mendengar semua yang terjadi pada Nisa. Rizal dan Wildan sadar yang meminta Nisa untuk tabah menghadapi apa yang dialaminya. Suatu malam diadakan pertemuan untuk membahasa permasalahan yang menimpa Nisa. Sebuah keputusan diambil karena Ayah Nisa merasa tidak enak untuk menemui Kiai Najamudin maka awalnya Kudhori diajukan untuk menjadi penggantinya namun karena dirasa masih muda maka Kiai Mahfud yang mengantikannya.
Kiai mahfud menemui Kiai Najamudin dan mengambil keputusan perceraian. Setelah berceria dengan samsudin Nisa pergi ke kecamatan bersama Kudhori. Ayah Nisa tidak menyetujui hubungan itu dan menyuruh kudhori pulang ke kampong halamannya atau pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan Nisa. Mereka berpisah, namun Kudhori berjanji akan dating lagi untuk melamarnya,. Nisa melanjutkan kuliahnya. Kudhori mengajar di dua universitas dan membuatnya semakin mapan. Denganb kemapananya Kudhori mengajak Nisa menikah meski pada walnya Nisa masih ragu untuki membangun rumah tangga yang kedua kalinya namun Kudhori selau sabar dalam meyakinkan Nisa. Mereka berdua pun menikah dan menghabiskan hari-harinya penuh dengan kebahagiaan. Saat-saat tertentu Nisa masih teringat pada apa yang dilakukan Samsudin. Dengan kasih sayangnya Kudhori selalu sabar menghadapi Nisa. Beberapa tahun kemudain mereka mempunyai anak yang diberi nama Mahbub.

Bagai petir disiang bolong Nisa sangat terkejut saat mendengar berita bahwa Kudhori mengalami sebuah kecelakaan. Terdengar kabar bahwa samsudin yang telah menabrak Kudhori. Kudhori dibawa kerumah sakit namun Tuhan berkehendak lain. Kudhori akhirnya meninggal karena mengalami pendarahan hebat di kepalanya. Semua orang member dukungan pada Nisa. Nisa menyuruh Mahbub untuk member salam yang terakhir untuk ayahnya. Dan saat itu pula Nisa  mengucapkan rasa sayangnya pada Kudhori.


Aduan Asa III

Ngerasa kangen, tapi bingung harus apa. Bingung ngejelasinnya gimana. Tapi bawaannya gak jelas. Beda. Udah gak kaya dulu.
Yang udah kehilangan romantis-romantisnya. Terus mulai mikir "Dulu kita gak gini deh." Mulai kangen sama keadaan yang dulu.
Tapi gak bisa diem aja sama kondisi yang kaya gini.
Cinta, tapi jenuh. Jenuh, tapi terlalu kekanakan untuk diakhiri.
Terus yang mulai sering berantem gak jelas.
Chat dianggurin, telepon males, sering pergi sama temen, sama yang lain bahkan. hmmmh. . .

Gak bisa diem. Salah satu harus mau ngalah dan mau memperbaiki keadaan. Apa salahnya memulai duluan? Dicuekin atau gimana itu urusan nanti.
Ini juga bukan hal yang bisa diselesaikan dengan cara 'putus'.
Gak mau nyesel. Gak mau nyesek. Kita udah sama-sama dewasa.
Keputusan ini, ayo kita lakukan bersama dengan komitmen yang selalu kita pegang.

-Dekat kucinta kau. Jauh juga kucinta kau-





Waktu Yang Salah- Fiersa Besari (lirik)



Jangan tanyakan perasaanku, jika kau pun tak bisa beralih

Dari masa lalu yang menghantuimu, karena sungguh ini tidak adil

Bukan maksudku menyakitimu, namun tak mudah tuk melupakan

Cerita panjang yang pernah aku lalui, tolong yakinkan saja raguku


Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu

Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka

Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku

Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah


Hidup memang sebuah pilihan, tapi hati bukan tuk dipilih

Bila hanya setengah dirimu hadir dan setengah lagi untuk dia




Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu

Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka

Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku

Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah


Bukan ini yang ku mau, lalu untuk apa kau datang?

Rindu tak bisa diatur, kita tak pernah mengerti

Kau dan aku menyakitkan

Pergi saja engkau pergi dariku, biar kubunuh perasaan untukmu

Meski berat melangkah, hatiku hanya tak siap terluka

Beri kisah kita sedikit waktu, semesta mengirim dirimu untukku

Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah



SERAT WIRA WIYATA bagian II





23. Mangkono uga yen bisa, 

miturut sarta ngakoni, 

temtu den opahi uga, 

wit gawe leganing ati, 

akeh tuwin sathithik, 

minurwat lan karyanipun, 

tan beda patrapira, 

prajurit jinunjung linggih, 

myang ingundur iku adil jenengira. 



24. Yen tan bisa samektanya, 

nora jumeneng prajurit, 

gawe tuna marang praja, 

weh lingeseming narapati, 

amung sira pribadi, 

kang ndhuwurken ing piyangkuh, 

mung lagi bisa aba, 

anggepmu mbutuhken nagri, 

ywa kebanjur duwe cipta kang mangkana. 



25. Wruhanta lalakonira, 

sajatine wus angemping, 

mring praja miwah Narendra, 

dene durung potang kardi, 

sira wus den paringi, 

sandhang pangan nora kantu, 

sinuba kinurmatan, 

ounjul sasamaning abdi, 

mangsa kala linilan lungguh satata. 





26. Apa kang sira upaya, 

kamulyan aneng nagari, 

ingajenan mring sasama, 

nyawabi mring sasama, 

nyawabi mring anak rabi, 

nadyan para maharsi, 

ingkang tapa neng ngasamun, 

mong tani lan nangkoda, 

rinewangan anderpati, 

nora liyan kamulyan kang den upaya. 



27. Upamane raganira, 

nora dadia prajurit, 

iya misih mangan sega, 

dene minum warih, 

saking wetuning bumi, 

uga kagungan ing ratu, 

lan sira ingayoman, 

rineksa kalawan adil, 

lamun datan rumasa sira duraka. 



28. Marma den sumurup sira, 

mring sih kamulaning Gusti, 

benjang yen tinuduh sira, 

lumawat ngadoni jurit, 

yeku karyanta yekti, 

pangudangireng Gustimu, 

kono aja pepeka, 

den madhep marang sawiji, 

nanging cipta sedyakna males mring praja. 



29. Prapteng papan cumadhonga 

ing printah senapati, 

aja abawa priyangga, 

dumeh sira bandha wani, 

lumangkah mring ngulabi, 

kang mangkono sasat mungsuh, 

gawe guguping rowang, 

weh gidhuhing senapati, 

yen kasora dadi sira antuk dosa. 



30. Lungguhing para prawira, 

yen ana madyaning jurit 

nora wenang duwe karsa, 

ragane pama jemparing, 

kang mesthi senapati, 

ing sakarsa kang pinanduk, 

linepas ywa saranta, 

angsahira den mranani, 

marang mungsuh aja keguh ing bebaya. 



31. Den kadi Partasuta, 

Bimanyu kala tinudhing, 

mangurah kang gelar cakra, 

dening sang Yudhistira Ji, 

sukaning tyas tan sipi, 

dupi rinoban ing mungsuh, 

kesthi trahing satriya, 

wedi wirang wani mati, 

yeka mangka tamsiling para prawira. 



32. Kono sedhenge medharna, 

ing kasuran guna sekti, 

nyimakna paningalira, 

ing tekad ywa walang ati, 

wruhanta senapati, 

wakiling Gusti satuhu, 

Gusti wakiling suksma, 

kang kinon ngudaneni, 

mring kawula kang sumedya mrih utama. 



33. Padha ingaran utama, 

ing pakaryan mangun jurit, 

iku kang luhur priyangga, 

wus kasebut kanan sruti, 

yen tapaning prajurit, 

ngasorken tapaning wiku, 

wit sumungkuning puja, 

neng pucuking gunung wesi, 

sang pandhita neng pucuking kang aldaka. 

34. Ing tekad dipun santosa, 

aja angrasani pati, 

apan tan minenang sira, 

gumamntung karsaning Widdhi, 

yen wis tibaning pasthi, 

nora pilih marganipun, 

ala mati neng wisma, 

becik mati kang utami, 

tur sumbaga dadi ngamale trahira. 



35. Wus ana keyektenira, 

sang Partasuta ing nguni, 

palastra aneng palagyan, 

lawan lagawaning pati, 

wit dennya anglabuhi, 

Pandhawa manggiha unggul, 

puwarantuk nugraha, 

sira wau Partasiwi, 

turunira angratoni tanah Jawa. 



36. Lamun durung takdirira, 

nadyan ana hru sakethi, 

yen tan waswas ing wardaya, 

sayekti nora ngenani, 

amung sajroning jurit, 

aja sira darbe, 

ing lair amanuta, 

ing sakarsa senapati, 

batinira kumambanga ing wisesa. 



37. Ri sedheng nen bayantaka, 

kalamun ana kang weri, 

nungkul wus mbuwang palastra, 

nora wenang den pateni, 

binandhang iku wajib, 

yen ngantia nemu lampus, 

tetep nistaning prajurit, 

nemu dosa temah apesing ayuda. 



38. Mangkono priyangganira, 

yen kaselut ing ngajurit, 

aja gugup den prayitna, 

ing tekad dipun pratitis, 

awit wong murweng jurit, 

ana papangkatanipun, 

nistha madya utama, 

yen kober dipun engeti, 

kanisthane wong kaselut neng ranangga. 



39. Ing papa nora kuciwa, 

gegaman samekta sami, 

atandhing padha kehira, 

tanpa kiwul ing ajurit, 

tangeh ana pepati, 

myang tanana nandhang tatu, 

mundur tanpa lasaran, 

mung labet kekesing ati, 

kang mangkono antuk dosa tri prakara. 



40. Dhihin marang ing Narendra, 

denira cidra ing janji, 

kapindho ngasorken praja, 

kang mulyakken marang dhiri, 

katri marang Hyang Widdhi, 

ngukuhi gadhuhanipun, 

kokum pantes linunanas, 

padhane sato wanadri, 

yen janmaa pasthi ana tekadira. 



41. Nadyan para prawira, 

yen kaseser ing ngajurit, 

nadyan keh kedhike padha, 

kasor papane sasupit, 

mundur amrih pakolih, 

ing pangolah nora gugup, 

sarana winiweka, 

kaangkah dennya mangungkih, 

yen sinerang rikat rinukat marwasa. 





42. Utaminireng prawira, 

sanadyan karoban tandhing, 

tatag tur simpen weweka, 

wengkoning papan tiniling, 

linanglangan kang weri, 

endhi kang suda ing purun, 

pinaran pinarwasa, 

winisesa amrih titih, 

estu jaya sadaya samya raharja. 

Sadewa


 Raden Sadewa atau Tangsen yang merupakan saudara kembar dari Raden Nakula adalah bungsu dari Pandawa. Ia adalah putra dari Dewi Madrim dan Batara Aswin, dewa kembar bersama Batara Aswan, ayah Nakula. 

Raden Sadewa memiliki perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia. Dalam hal olah senjata, sadewa ahli dalam penggunaan pedang. Nama-nama lain dari Sadewa adalah Sudamala, dan Madraputra. 

Dalam penyamaran di Negri Wirata Sadewa menjadi pengurus taman kerajaan di Wirata bernama Tantripala. 

Jika Nakula tak dapat lupa akan segala hal maka, Sadewa juga memiliki ingatan yang kuat serta ahli dalam hal menganalisis sesuatu. Sadewa juga ahli dalam hal Metafisika dan dapat tahu hal yang akan terjadi. Ini diperoleh dari Ditya Sapulebu yang dikalahkannya dan menyatu dalam tubuhnya saat Pandawa membuka hutan Mertani. Selain itu, Sadewa mendapatkan wilayah Bumiretawu atau juga disebut Bawertalun. 

Sadewa menikah dengan Dewi Srengginiwati putri Begawan Badawanganala dan berputra Bambang Widapaksa. Selain itu Ia juga menikah dengan Dewi Rasawulan, putri dari Prabu Rasadewa dari kerajaan Selamiral. Menurut kabar, yang sanggup memperistri Dewi Rasawulan akan unggul dalam Baratayuda Di saat yang sama Arjuna dan Dursasana juga datang melamar, namun yang memenakan sayembara pilih itu hanyalah Sadewa karena ia sanggup menjabarkan apa arti cinta sebenarnya. 

Sebelum pecah Baratayuda, ada dua raksasa penjelmaan Citraganda dan Citrasena yang bernama Kalantaka dan Kalanjaya yang datang ke Astina hendak membantu kerajaan Astina. Kedua raksasa tersebut sebenarnya hanyalah jin biasa, namun karena dikutuk oleh Batara Guru akibat mengintip Batara Guru dan Dewi Uma yang sedang mandi di telaga. Kehadiran kedua raksasa tersebut tenyata menimbulkan kegusaran dalam diri Dewi Kunti. Dewi Kunti lalu memohon pada Batari Durga agar kedua raksasa tersebut dimusnahkan. Batari Durga meminta Sadewa sebagai tumbalnya. Mendengar hal itu, Dewi Kunti tidak setuju dan kemudian kembali ke Amarta. Batari Durga kemudian menyuruk Kalika, seorang jin anak buahnya untuk menyusup kedalam tubuh Dewi Kunti. Dalam keadaan kerasukan, Dewi Kunti menyuruh sadewa sebagai tumbal dan diminta menghadap Batari Durga. Sadewa pun hanya menurut perintah ibu tirinya yang telah mengasuhnya dari kecil.

Sesampainya di hutan, Batari Durga minta diruwat oleh Sadewa menjadi putri yang cantik. Sadewa tidak sanggup melakukannya dan lalu akan dimangsa oleh Batari Durga. Sang Hyang Narada yang mengetahui hal itu lalu melaporkannya pada Batara Guru. Batara Guru lalu merasuk kedalam tubuh Sadewa dan meruwat Batari Durga. Kemudian kedua raksasa jelmaan Citraganda dan Citrasena dimusnahkan. Cerita ini dikenal dengan lakon Sudamala.

Setelah perang baratayuda selesai, Sadewa memilih menjadi patih Hastina dan juga pendamping Puntadewa. Akhir hidupnya diceritakan mati moksa dengan saudara-saudaranya.

Dalam pewayangan gaya Yogyakarta, wayang Nakula dan Sadewa dibedakan oleh jamang lidi (semacam hiasan kepala) yang di tunjuk dalam gambar dibawah. Sadewa menggunakan jamang lidi sedang Nakula tidak. 

Nakula

Resminya, Nakula atau Pinten adalah putra dari Prabu Pandu dan Dewi Madrim. Namun karena Prabu Pandu tak dapat behubungan tubuh dengan istrinya, maka Dewi Madri yang telah diajari ilmu Adityaredhaya oleh Dewi Kunti memanggil dewa tabib kayangan yang juga dikenal sebagai dewa kembar. Batara Aswan-Aswin. Nakula adalah putra dar Batara Aswan sedang Sadewa adalah putra dari Batara Aswin.

Raden Nakula memiliki perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia.

Setelah 12 tahun menjadi buangan di hutan, Nakula beserta saudara-saudaranya menyamar di negri Wirata. Di sana Nakula menjadi seorang pelatih kuda kerajaan bernama Darmagrantika.

Aji-aji yang dimiliki oleh Nakula adalah Aji Pranawajati yang berhasiat tak dapat lupa akan hal apapun. Aji ini ia dapat dari Ditya Sapujagad, seorang perwira Kerajaan Mertani di bawah kekuasaan Prabu Yudistira yang menyatu dalam tubuhnya. Nakula pun mendapat wilayah yang dulu diperintah oleh Sapujagad yaitu Sawojajar. Nakula juga memiliki cupu yang berisi Banyu Panguripan dari Batara Indra, cupu berisi Tirta Manik yang merupakan air kehidupan dari mertuannya Begawan Badawanganala.

Raden Nakula menikah dengan Dewi Retna Suyati, putri dari Prabu Kridakerata dari Awu-Awu Langit dan berputra Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati. Ia juga menikah dengan Dewi Srengganawati, putri Dari Begawan Badawanganala dari Gisik Samudra berputri Dewi Sritanjung. Saat perang Baratayuda berlangsung, Nakula dan Sadewa diutus Prabu Kresna untuk menemui Prabu Salya dengan membawa patrem (semacam pisau kecil) dan minta dibunuh karena tidak tahan melihat saudara-saudaranya mati karena tak ada satupun manusia yang sanggup menandingi Aji Candabirawa Prabu Salya. Prabu Salya yang terharu lalu memberikan rahasia kelemahannya kepada si kembar bahwa yang sanggup membunuhnya adalah Puntadewa yang berdarah putih.

Setelah Baratayuda selesai, Nakula diangkat menjadi raja di Mandrapati menggantikan Prabu Salya karena semua putranya tewas dalam perang Baratayuda. Diceritakan bahwa Nakula mati moksa bersama empat saudaranya dan Dewi Drupadi. 

Wikipedia
Nakula (Sansekerta: नकुल, Nakula), adalah seorang tokoh protagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putera Dewi Madri, kakak ipar Dewi Kunti. Ia adalah saudara kembar Sadewa dan dianggap putera Dewa Aswin, Dewa tabib kembar.

Menurut kitab Mahabharata, Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut Dropadi, Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. Namun, sifat buruk Nakula adalah membanggakan ketampanan yang dimilikinya. Hal itu diungkapkan oleh Yudistira dalam kitab Prasthanikaparwa.
Secara harfiah, kata nakula dalam bahasa Sansekerta merujuk kepada warna Ichneumon, sejenis tikus atau binatang pengerat dari Mesir. Nakula juga dapat berarti “cerpelai”, atau dapat juga berarti “tikus benggala”. Nakula juga merupakan nama lain dari Dewa Siwa.

Menurut Mahabharata, si kembar Nakula dan Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam merawat kuda dan sapi. Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati. Ia juga teliti dalam menjalankan tugasnya dan selalu mengawasi kenakalan kakaknya, Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Nakula juga memiliki kemahiran dalam memainkan senjata pedang.

Saat para Pandawa mengalami pengasingan di dalam hutan, keempat Pandawa (Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) meninggal karena meminum air beracun dari sebuah danau. Ketika sesosok roh gaib memberi kesempatan kepada Yudistira untuk memilih salah satu dari keempat saudaranya untuk dihidupkan kembali, Nakula-lah dipilih oleh Yudistira untuk hidup kembali. Ini karena Nakula merupakan putera Madri, dan Yudistira, yang merupakan putera Kunti, ingin bersikap adil terhadap kedua ibu tersebut. Apabila ia memilih Bima atau Arjuna, maka tidak ada lagi putera Madri yang akan melanjutkan keturunan.
Ketika para Pandawa harus menjalani masa penyamaran di Kerajaan Wirata, Nakula menyamar sebagai perawat kuda dengan nama samaran “Grantika”. Nakula turut serta dalam pertempuran akbar di Kurukshetra, dan memenangkan perang besar tersebut.
 Dalam kitab Prasthanikaparwa, yaitu kitab ketujuh belas dari seri Astadasaparwa Mahabharata, diceritakan bahwa Nakula tewas dalam perjalanan ketika para Pandawa hendak mencapai puncak gunung Himalaya. Sebelumnya, Dropadi tewas dan disusul oleh saudara kembar Nakula yang bernama Sadewa. Ketika Nakula terjerembab ke tanah, Bima bertanya kepada Yudistira, “Kakakku, adik kita ini sangat rajin dan penurut. Ia juga sangat tampan dan tidak ada yang menandinginya. Mengapa ia meninggal sampai di sini?”. Yudistira yang bijaksana menjawab, “Memang benar bahwa ia sangat rajin dan senang menjalankan perintah kita. Namun ketahuilah, bahwa Nakula sangat membanggakan ketampanan yang dimilikinya, dan tidak mau mengalah. Karena sikapnya tersebut, ia hanya hidup sampai di sini”. Setelah mendengar penjelasan Yudistira, maka Bima dan Arjuna melanjutkan perjalanan mereka. Mereka meninggalkan jenazah Nakula di sana, tanpa upacara pembakaran yang layak, namun arwah Nakula mencapai kedamaian.

Arjuna


Raden Arjuna adalah putra ketiga dari pasangan Dewi Kunti dan Prabu Pandu atau sering disebut dengan ksatria Panengah Pandawa. Seperti yang lainnya, Arjuna pun sesungguhnya bukan putra Pandu, namun ia adalah putra dari Dewi Kunti dan Batara Indra. Dalam kehidupan orang jawa, Arjuna adalah perlambang manusia yang berilmu tingga namun ragu dalam bertindak. Hal ini nampak jelas sekali saat ia kehilangan semangat saat akan menghadapi saudara sepupu, dan guru-gurunya di medan Kurusetra. Keburukan dari Arjuna adalah sifat sombongnya. Karena merasa tangguh dan juga tampan, pada saat mudannya ia menjadi sedikit sombong.

Arjuna memiliki dasanama sebagai berikut : Herjuna, Jahnawi, Sang Jisnu, Permadi sebagai nama Arjuna saat muda, Pamade, Panduputra dan Pandusiwi karena merupakan putra dari Pandu, Kuntadi karena punya panah pusaka, Palguna karena pandai mengukur kekuatan lawan, Danajaya karena tidak mementingkan harta, Prabu Kariti saat bertahta menjadi raja di kayangan Tejamaya setelah berhasil membunuh Prabu Niwatakaca, Margana karena dapat terbang tanpa sayap, Parta yang berarti berbudi luhur dan sentosa, Parantapa karena tekun bertapa, Kuruprawira dan Kurusatama karena ia adalah pahlawan di dalam baratayuda, Mahabahu karena memiliki tubuh kecil tetapi kekuatannya besar, Danasmara karena tidak pernah menolak cinta manapun, Gudakesa, Kritin, Kaliti, Kumbawali, Kumbayali, Kumbang Ali-Ali, Kuntiputra, Kurusreta, Anaga, Barata, Baratasatama, Jlamprong yang berarti bulu merak adalah panggilan kesayangan Werkudara untuk Arjuna, Siwil karena berjari enam adalah panggilan dari Prabu Kresna, Suparta, Wibaksu, Tohjali, Pritasuta, Pritaputra, Indratanaya dan Indraputra karena merupakan putra dari Batara Indra, dan Ciptaning dan Mintaraga adalah nama yang digunakan saat bertapa di gunung Indrakila. Arjuna sendiri berarti putih atau bening.

Pada saat lahir, sukma Arjuna yang berwujud cahaya yang keluar dari rahim ibunya dan naik ke kayangan Kawidaren tempat para bidadari. Semua bidadari yang ada jatuh cinta pada sukma Arjuna tersebut yang bernama Wiji Mulya. Kegemparan tersebut menimbulkan kemarahan para dewa yang lalu menyerangnya. Cahaya yang samar samar tersebut lalu berubah menjadi sesosok manusia tampan yang berpakaian sederhana.
Hilangnya sukma Arjuna dari tubuh Dewi Kunthi menyebabkan kesedihan bagi Prabu Pandu. Atas nasehat Semar, Pandu lalu naik ke kayangan dan meminta kembali putranya setelah diberi wejangan oleh Batara Guru.

Sejak muda, Arjuna sudah gemar menuntut ilmu. Ia menuntut ilmu pada siapapun. Menurutnya lingkungan masyarakat adalah gudang dari ilmu. Guru-gurunya antara lain adalah Resi Drona, dari Resi Dona ia mendapat senjata ampuh yang bernama panah Cundamanik dan Arya Sengkali, yang kedua adalah Begawan Krepa, Begawan Kesawasidi, Resi Padmanaba, dan banyak pertapa sakti lainnya. Dalam kisah Mahabarata, Arjuna berguru pada Ramaparasu, namun dalam kisah pewayangan, hal tersebut hampit tidak pernah disinggung.

Dalam pewayangan diceritakan bahwa Arjuna memiliki lebih dari 40 orang istri namun hanya beberapa saja yang terkenal dan sering di singgung dalam pedalangan. Istri-istri Arjuna adalah sebagai berikut :
- Endang Jimambang berputra Bambang Kumaladewa dan Bambang Kumalasekti
- Dewi Palupi atau Dewi Ulupi berputra Bambang Irawan
- Dewi Wara Sumbadra berputra Raden Angkawijaya atau Raden Abimanyu.
- Dewi Srikandi tidak berputra
- Dewi Ratri berputra Bambang Wijanarka
- Dewi Dresnala berputra Bambang Wisanggeni
- Dewi Juwitaningrat berputra Bambang Senggoto yang beujud raksasa
- Endang Manuhara berputri Dewi Pregiwa dan Dewi Manuwati
- Dewi Banowati berputri Endang Pergiwati (diasuh oleh Endang Manuhara)
- Dewi Larasati berputra Bambang Sumitra dan Bambang Brantalaras
- Dewi Gandawati berputra Bambang Gandakusuma
- Endang Sabekti berputra Bambang Priyembada
- Dewi Antakawulan berputra Bambang Antakadewa
- Dewi Supraba berputra Bambang Prabakusuma
- Dewi Wilutama berputra Bambang Wilugangga
- Dewi Warsiki tidak diketahui putranya
- Dewi Surendra tidak diketahui putranya
- Dewi Gagarmayang tidak diketahui putranya
- Dewi Tunjungbiru tidak diketahui putranya
- Dewi Leng-Leng Mulat tidak diketahui putranya
- Dewi Citranggada berputra Bambang Babruwahana
- Dewi Lestari tidak berputra
- Dewi Larawangen tidak berputra
- Endang Retno Kasimpar tidak berputra
- Dewi Citrahoyi tidak berputra
- Dewi Manukhara tidak berputra

Banyaknya istri yang dimiliki Arjuna ini dalam cerita pewayangan bukanlah merupakan gambaran seseorang yang serakah istri atau mata keranjang, namun gambaran bahwa Arjuna dapat menerima dan diterima oleh semua golongan. Ketika muda, Arjuna pernah ingin memperistri Dewi Anggraini, istri Prabu Ekalaya atau juga sering disebut Prabu Palgunadi dari kerajaan Paranggelung. Saat itu Arjuna yang ingin memaksakan kehendaknya mengakibatkan Dewi Anggraini bunuh diri karena ia hanya setia pada suaminya. Prabu Ekalaya yang mengetahui hal itu menantang Arjuna, namun kehebatan Prabu Ekalaya ternyata lebih dari Arjuna. Arjuna lalu mengadu pada Drona. Ia beranggapan gurunya telah ingkar janji dengan pernah menyebutkan tidak akan pernah mengajari memanah kepada siapapun selain Arjuna. Resi Drona lalu pergi kepada Prabu Ekalaya. Prabu Ekalaya memang adalah penggemar dari Resi Drona, namun karena ia tak dapat berguru secara langsung, ia menciptakan arca Drona di istananya untuk diajak bicara dadn berlatih. Oleh Drona hal tersebut dianggap sebagai suatu hal terlarang dengan memasang arcanya di sana. Maka sebagai gantinya Resi Drona lalu meminta Cincin Mustika Ampal yang telah tertanam di ibu jari Prabu Ekalaya. Oleh drona jari tersebut lalu dipotong lalu di tempelkan pada jari Arjuna. Sejak itulah Arjuna memiliki enam jari pada tangan kanannya. Hal ini dalam bahasa Jawa disebut siwil. Saat bertemu dengan Arjuna lagi, Prabu Ekalaya kalah. Saat itu ia menyadari bahwa ia telah diperdaya, maka sebelum mati ia berkata akan membalas dendam pada Drona kelak dalam Perang Baratayuda.

Arjuna memiliki banyak sekali senjata dan aji-aji.Senjata-senjata Arjuna antara lain adalah Panah Gendewa dari Batara Agni setelah ia membantu Batara Agni melawan Batar Indra dengan membakar Hutan Kandawa, Panah Pasopati dari Kirata, seorang pemburu jelmaan Batara Guru, sebelum Arjuna membunuh Niwatakaca, Mahkota Emas dan berlian dari Batara Indra, setelah ia mengalahkan Prabu Niwatakaca dan menjadi Raja para bidadari selama tujuh hari, keris Pulanggeni, keris Kalanadah yang berasal dari taring Batara Kala, Panah Sarotama, Panah Ardadali, Panah Cundamanik, Panah Brahmasirah, Panah Angenyastra, dan Arya Sengkali, keempatnya dari Resi Drona, Minyak Jayangketon dari Begawan Wilawuk, mertuanya, pusaka Mercujiwa, panah Brahmasirah, cambuk kyai Pamuk, panah Mergading dan banyak lagi.