Tampilkan postingan dengan label Budaya Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Jawa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juli 2014

Menghargai (Ngajeni) Pada Orang Yang Lebih Tua


Dan, yang tidak dapat kita abaikan adalah sikap hidup orang Jawa yang menejunjung tinggi nilai-nilai positif dalam kehidupan. Dalam interaksi antar personal di masyarakat, mereka selalu saling menjaga segala kata dan perbuatan untuk tidak menyakiti hati orang lain.
Mereka begitu menghargai persahabatan sehingga eksistensi orang lain sangat dijunjung sebagai sesuatu yang sangat penting. Mereka tidak ingin orang lain atau dirinya mengalami sakit hati atau terseinggung oleh perkataan dan perbuatan yang dilakukan sebab bagi orang Jawa, ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana artinya, harga diri seseorang dari lidahnya (omongannya), harga badan dari pakaianya



Urip Ora Ngoyo



Konsep hidup nerimo ing pandum ( ora ngoyo ) selanjutnya mengisyaratkan bahwa orang Jawa hidup tidak terlalu berambisi. Jalani saja segala yang harus di jalani. Tidak perlu terlalu ambisi untuk melakukan sesuatu yang nyata-nyata tidak dapat di lakukan. Orang Jawa tidak menyarankan hal tersebut.
Hidup sudah mengalir sesuai dengan koridornya. Kita boleh saja mempercepat laju aliran tersebut, tetapi laju tersebut jangan terlalu drastis. Perubahan tersebut hanya sebuah improvisasi kita atas kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Orang Jawa mengatakan dengan istilah jangan ngoyo. Biarkan hidup membawamu sesuai dengan alirannya. Jangan membawa hidup dengan tenagamu!
Bagi orang jawa hidup dan kehidupan itu sama dengan kendaraan. Dia akan membawa kita pada tujuan yang pasti. Orang jawa memposisikan diri sebagai penumpang. Kendaraan atau hiduplah yang membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Mereka tidak membawa kendaraan tersebut, melainkan dibawa oleh kendaraan.
Seperti air di dalam saluran sungai, jika mereka mengalir biasa, maka kondisinya aman dan nyaman. Tetapi ketika alirannya dipaksa untuk besar, maka aliran sungai tersebut tidak aman lagi bagi kehidupan. Orang Jawa memahami hal tersebut sehingga menerapkan konsep hidup jangan ngoyo.Ngoyo artinya memaksakan diri untuk melakukan sesuatu. 
Jika kita memaksakan diri untuk melakukan sesuatu, maka kemungkinan besar kita akan mengalami sesuatu yang kurang baik, misalnya kita akan sakit. Rasa sakit terjadi karena ada pemaksaan terhadap kemampuan sesungguhnya yang kita miliki.

Ciri khas lain yang tak bisa di tinggalkan adalah sifat Gotong royong atau saling membantu sesama orang di lingkungan hidupnya apalagi lebih kentara sifat itu bila kita bertandang ke pelosok pelosok daerah suku Jawa di mana sikap gotong royong akan selalu terlihat di dalam setiap sendi kehidupannya baik itu suasana suka maupun duka. 

Pola kehidupan orang jawa memang telah tertata sejak nenek moyang. Berbagai nilai luhur kehidupan adalah warisan nenek moyang yang adi luhung. Dan, semua itu dapat kita ketahui wujud nyatanya. Bagaimana eksistensi orang jawa terjaga begitu kuat sehingga sampai detik ini pola-pola tersebut tetap diterapkan dalam kehidupan.
Pola hidup kerjasama ini dapat kita ketemukan pada kerja gotongroyong yang banyak diterapkan dalam masyarakat Jawa. Orang Jawa sangat memegang teguh pepatah yang mengatakan: ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Ini merupakan konsep dasar hidup bersama yang penuh kesadaran dan tanggungjawab.
Kita harus mengakui bahwa kehidupan orang jawa memang begitu spesifik. Dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia, bahkan yang ada di dunia, orang Jawa mempunyai pola hidup yang berbeda. Kebiasaan hidup secara berkelompok menyebabkan rasa diri mereka sedemikian dekat satu dengan lainnya, sehingga saling menolong merupakan sebuah kebutuhan.
Mereka selalu memberikan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan. Bahkan dengan segala cara mereka ikut membantu seseorang keluar dari permasalahan, apalagi jika sesaudara atau sudah menjadi teman.



Sifat dan Karakter Orang Jawa





Sifat dan Karakter Orang Jawa Suku jawa diidentikkan dengan berbagai sikap sopan, segan, menyembunyikan perasaan alias tidak suka langsung-langsung, menjaga etika berbicara baik secara konten isi dan bahasa perkataan maupun objek yang diajak berbicara. Dalam keseharian sifat Andap Asor terhadap yang lebih tua akan lebih di utamakan, Bahasa Jawa adalah bahasa berstrata, memiliki berbagai tingkatan yang disesuaikan dengan objek yang diajak bicara. 
Suku Jawa umumnya mereka lebih suka menyembunyikan perasaan. Menampik tawaran dengan halus demi sebuah etika dan sopan santun sikap yang dijaga. Misalnya saat bertamu dan disuguhi hidangan. Karakter khas seorang yang bersuku Jawa adalah menunggu dipersilahkan untuk mencicipi, bahkan terkadang sikap sungkan mampu melawan kehendak atau keinginan hati. 
Suku Jawa memang sangat menjunjung tinggi etika. Baik secara sikap maupun berbicara. Untuk berbicara, seorang yang lebih muda hendaknya menggunakan bahasa Jawa halus yang terkesan lebih sopan. 
Berbeda dengan bahasa yang digunakan untuk rekan sebaya maupun yang usianya di bawah. Demikian juga dengan sikap, orang yang lebih muda hendaknya betul-betul mampu menjaga sikap etika yang baik terhadap orang yang usianya lebih tua dari dirinya, dalam bahasa jawa Ngajeni 
Ciri khas Narimo ing pandum adalah salah satu konsep hidup yang dianut oleh Orang Jawa. Pola ini menggambarkan sikap hidup yang serba pasrah dengan segala keputusan yang ditentukan oleh Tuhan. Orang Jawa memang menyakini bahwa kehidupan ini ada yang mengatur dan tidak dapat ditentang begitu saja. 
Setiap hal yang terjadi dalam kehidupan ini adalah sesuai dengan kehendak sang pengatur hidup. Kita tidak dapat mengelak, apalagi melawan semua itu. Inilah yang dikatakan sebagai nasib kehidupan. Dan, nasib kehidupan adalah rahasia Tuhan, kita sebagai makhluk hidup tidak dapat mengelak. Orang Jawa memahami betul kondisi tersebut sehingga mereka yakin bahwa Tuhan telah mengatur segalanya.
Pola kehidupan orang jawa memang unik. Jika kita mencoba untuk menelusuri pola hidup orang jawa, maka ada banyak nilai positif yang kita dapatkan. Bagi orang jawa, Tuhan telah mengatur jatah penghidupan bagi semua makhluk hidupnya, termasuk manusia. Setiap hari kita melihat banyak orang yang keluar rumah, seperti juga, banyak burung yang keluar sarang untuk mencari penghidupan. Pagi mereka keluar rumah dan sore pulang dengan kondisi yang lebih baik

Orang Jawa



Dalam kehidupan masyarakat jawa,.. banyak istilah sering kira dengar,.. berikut ini beberapa filosofi nya..



1.Urip Iku Urup - Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan semakin baik.


2.Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara - Manusia hidup didunia harus mengusahakan kebaikan dan memberantas angkara murka.


3.Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti - segal asifat angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.


4.Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake -Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan.


5.Sekti Tanpa Aji-aji, Sugih Tanpa Bandha -Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan/keturunan, Kaya tanpa didasari kebendaan.


6.Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan-Jangan gampang sakit hati saat musibah menimpa diri, Jangan sedih saat kehilangan sesuatu.


7.Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman -Jangan mudah terheran”, Jangan mudah nyesel, Jangan mudah terkejut, Jangan mudah ngambeg, jangan manja.


8.Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman- Jangan terkungkung dengan keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi


9.Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka -Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah,Jangan suka curang agar tidak celaka.


10.Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo - jangan tergiur hal” yg tampak mewah, Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat/semangat.


11.Aja Adigang, Adigung, Adiguna -Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.


12.jer basuki mawa beya- untuk mencapai kesuksesan perlu pengorbanan.




Tembang Dolanan



SLUKU-SLUKU BATHOK





Sluku-sluku bathok

bathoke ela-elo

si romo menyang solo

oleh-olehe payung moda

tak jenthir ololobah

wong mati ora obah

yen obah medeni bocah

yen urip nggoleko dhuwit




PITIK TUKUNG


Aku duwe pitik pitik tukung

Saben dina tak pakani jagung

Petok gok petok petok ngendok pitu

Tak ngremake netes telu

Kabeh trondol trondol tanpa wulu

Mondol mondol dol gawe guyu




ILIR-ILIR


Lir ilir..lir ilir..tanduré wus sumilir Tak ijo royo-royo..taksengguh temantèn anyar

Cah angon.cah angon..pènèkké blimbing kuwi , Lunyu-lunyu ya pènèken kanggo masuh dodotira

Dodotira dodotira kumitir bedhah ing pinggir Dondomana jlumatana kanggo séba méngko soré Mumpung padhang rembulané

Mumpung jembar kalangané Ya suraka..surak horéé



KATE-KATE DIPANAH

Te kate dipanah

dipanah ngisor nggelagah

ana manuk ondhe ondhe

Mbok sir bombok bok sir kate

Mbok sir bombok mbok sir kate



MENTHOK-MENTHOK

Menthok menthok tak kandhani

Saksolahmu angisi-isini

Mbok ya aja ngetok

Ana kandhang wae

Enak-enak ngorok ora nyambut gawe

Menthok-menthok mung lakumu

Megal-megol gawe guyu




KUPU KUWI

Kupu kuwi tak encupe

Mung abure ngewuhake

Ngalor-ngidul

Ngetan bali ngulon

Mrana-mrene mung sak paran-paran

Mbokya mencok tak encupe

Mentas mencok clegrok

Banjur mabur kleper




JAGO KATE


Jago kate te te te

Kukukluruk … kok

Amecece ce ce ce

Kukukluruk

Dibalang watu bocah kuncung

Keok … kena telehe

Njranthal … pelayune

Mari umuk mari ngece

Si kate katon nyekukruk




PADANG MBULAN

Yo, poro konco dolanan ning jobo

Padang mbulan, padange koyo rino

Rembulane sing ngawe-awe

Ngelingake ojo podo turu sore



JAMURAN


Jamuran… jamuran…ya ge ge thok…

jamur apa ya ge ge thok…

Jamur payung, ngrembuyung kaya lembayung,

sira badhe jamur apa?




KODOK NGOREK

Kodok ngorek kodok ngorek ngorek pinggir kali

teyot teblung teyot teblungteyot teyot teblung

Bocah pinter bocah pinter besuk dadi dokter

bocah bodho bocah bodho besuk kaya kebo



KIDANG TALUN


Kidang talun

mangan gedang talun

mil kethemil…mil kethemil…

si kidang mangan lembayung




DHONDHONG APA SALAK

dhondhong apa salak dhuku cilik cilik

gendong apa mbecak mlaku thimik thimik

adhik ndherek ibu tindak menyang pasar

ora pareng rewel ora pareng nakal

mengko ibu mesthi mundhut oleh-oleh

kacang karo roti adhik diparingi




PITIK TUKUNG

Aku duwe pitik, pitik tukung..

saben dina, tak pakani jagung

petok gogok petok petok ngendhog siji,

tak teteske…kabeh trondhol..dhol..dhol..

tanpa wulu..megal-megol.. gol.. gol.. gawe guyu…




JARANAN


jaranan-jaranan… jarane jaran teji

sing numpak ndara bei

sing ngiring para mantri

jeg jeg nong..jeg jeg gung

prok prok turut lurung

gedebug krincing gedebug krincing

prok prok gedebug jedher




GUNDHUL-GUNDHUL PACUL

Gundhul gundhul pacul cul, gembelengan

nyunggi nyunggi wakul kul, petentengan

wakul ngglimpang, segane dadi sak latar

wakul ngglimpang, segane dadi sak latar




MENTHOK-MENTHOK


Menthok, menthok, tak kandani mung lakumu,

angisin-isini mbok yo ojo ngetok,

ono kandhang wae enak-enak ngorok,

ora nyambut gawe

menthok, menthok …

mung lakukumu megal megol gawe guyu




GAMBANG SULING

Gambang suling, ngumandhang swarane

tulat tulit, kepenak unine

uuuunine.. mung..nreyuhake ba-

reng lan kentrung ke-

tipung suling, sigrak kendhangane



SUWE ORA JAMU


Suwe ora jamu

jamu godong tela

suwe ora ketemu

ketemu pisan gawe gela

Sikap Pria Jawa




Seorang pria Jawa memiliki kehidupan yang sempurna atau lengkap bila memiliki 5 hal yaitu :curigo, wismo, turonggo, kukilo, garwo .


1. curigo (senjata)


curigo atau keris bisa diartikan sebagai pekerjaan atau penghasilan. Seorang pria Jawa dikatakan hebat kalau punya pekerjaan atau penghasilan. Pada jaman dulu ini diartikan juga sebagai senjata atau mempunyai kemampuan untuk melindungi dirinya, bisa berwujud juga kemampuan kanuragan yang dimiliki.


2. wismo


wisma berarti rumah atau tempat tinggal. Pada jaman dahulu pria Jawa harus memiliki istananya. Kalau diartikan di jaman sekarang punya tempat tinggal sendiri yang dibeli dengan kemampuan sendiri baru dikatakan sebagai pria sejati.


3. turonggo


turonggo artinya kuda, bisa diartikan kendaraan. Makin lengkap seorang pria Jawa kalau memiliki kendaraan yang bisa membawanya kemanapun.


4. kukilo


kukilo bisa diartikam sebagai burung, atau kalau diterapkan di jaman sekarang adalah hewan piaraan, burung berkicau atau hobi dan kesenangan. Hobi menunjukkan karakter seseorang.


5. garwa


garwa merupakan kependekan darisigaraning jiwoyang bila diartikan dalam bahasa Indonesia adalah separuh jiwa, dengan kata lain isteri. Sungguh sangat bertolak belakang dengan apa yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, dimana semua orangngoyo(memaksakan diri) untuk berkeluarga sebelum memiliki kehidupan yang layak.”


Itulah yang harus dimiliki oleh seorang pria Jawa kalau mau dikatakan lengkap dan mengalami kehidupan yang sempurna. Sebenarnya tidak terlalu buruk bila diterapkan di jaman sekarang. Rumah gak perlu mewah yang penting nyaman untuk ditempati. Pekerjaan memang harus dimiliki seorang pria dewasa jika ingin memasuki kehidupan berikutnya yaitu berumah tangga. Kendaraan juga , asal bisa membawa ke tempat yang ingin kita tuju dan tak perlu mewah. Serta memiliki hobby menunjukkan karakter seseorang. Nah kalau empat itu sudah dimiliki perlu dipikirkan untuk mencari istri yang akan merawat rumah beserta isinya. Jangan malah dibalik urutannya, seperti yang biasa terjadi sekarang. Sepertinya ini filosofi yang bagus, bukan hanya untuk pria Jawa, tetapi untuk semua pria ketika memutuskan untuk mencapai jenjang berikutnya yaitu kehidupan berumah tangga. Satu lagi khasanah kehidupan yang bisa kita pelajari dari filosofi Jawa.


Sabtu, 21 Juni 2014

Sikap Wanita Jawa

Dalam hubungannya dengan masyarakat secara umum, seorang wanita yang baik harus dapat menjaga etika yaitu berhati-hati, bersikap hemat, menjaga kehormatan, segala perilaku harus dipikirkan dan diarahkan ke hal yang baik. Hubungan dengansuami, hendaknya : rajin, menghindari perilaku cacat, jangan menurutkan keinginan pribadiharus sesuai kondisidan keperluan (harus empan papan) dan harus mempertimbangkan berbagai hal (duga-duga).

Di samping itu juga diajarkan bahwa ada tentang 6 syarat istri kepada suami yang baik, yaitu takut, kasih, tahu pada kehendak suaminya, percaya, menurut dan berjuang demi suami. Ada 3 hal kewajiban istri yang utama yaitu wedi (takut), gemi (hemat) dan gumati (setia) . Bagi wanita yang akan mengabdi hendaknya mepunyai atak : rajin, tak membuat kecewa, sungguh-sungguh dalam bekerja, tidak banyak tingkah, penuh perhitungan dalam bekerja, berhati-hati. Oleh kaena itu suami akan lebih senang terhadap istri yang bersikap menurut, karena menjadi penyebab akan disenangi, welas, buah dari menurut, asih buah dari mituhu, mantep yang menyebakan cinta langgeng.
Sumber : Falsafah Hidup Jawa - Suwardi Endraswara